Kamis, 11 Februari 2010

Sabtu, 01 Agustus 2009

PEMBANGUNAN INDUSTRI

PERANAN SEKTOR INDUSTRI DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI
Proses industrialisasi dan pembangunan industri ini sebenarnya merupakan satu jalur kegiatan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dalam arti tingkat yang lebih maju maupun taraf hidup yang lebih bermutu. Dengan kata lain, pembangunan industri itu merupakan suatu fungsi dari tujuan pokok kesejahteraan rakyat, bukan merupakan kegiatan yang mandiri untuk hanya sekedar mencapai fisik saja.

Industrialisasi juga tidak terlepas dari usaha untuk meningkatkan mutu sumberdaya manusia dan kemampuannya memanfaatkan secara optimal sumberdaya alam dan sumber daya lainya. Hal ini berarti pula sebagai suatu usaha untuk meningkatkan produktivitas tenaga manusia disertai usaha untuk meluaskan ruang lingkup kegiatan manusia. Dengan demikian dapat diusahakan secara “vertikal” semakin besarnya nilai tambah pada kegiatan ekonomi dan sekaligus secara “horizontal” semakin luasnya lapangan kerja produktif bagi penduduk yang semakin bertambah.

Kita telah sering mendengar pendapat bahwa industri itu mempunyai peranan penting sebagai sector pemimpin (leading sector). Leading sector ini maksudnya adalah dengan adanya pembangunan industri maka akan memacu dan mengangkat pembangunan sektor-sektor lainya seperti sektor pertanian dan sektor jasa, misalnya. Pertumbuhan industri yang pesat akan merangsang pertumbuhan sector pertanian untuk menyediakan bahan-bahan baku bagi industri. Sector jasapun berkembang dengan adanya industrialisasi tersebut, misalnya berdirinya lembaga-lembaga keuangan, lembaga-lembaga pemasaran pemasaran/periklanan, dan sebagainya, yang kesemuanya itu nanti akan mendukung lajunya pertumbuhan industri. Seperti diungkapkan di muka, berarti keadaan menyebabkan meluasnya peluang kerja yang pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan dan permintaan masyarakat (daya beli). Kenaikan pendapatan dan peningkatan daya beli (permintaan) tersebut menunjukkan bahwa perekonomian itu tumbuh sehat.


Menurut criteria UNIDO (united nations for industrial development organization) Negara-negara dikelompokkan sebagai berikut:
• Kelompok Negara non-industri apa bila sumbangan sector industri terhadap PDB kurang dari 10 persen.
• Kelompok Negara dalam proses industrialisasi apabila sumbangan tersebut antara 10-20 persen.
• Kelompok Negara semi industrialisasi jika sumbang tersebut antara 20-30 persen, dan
• Kelompok Negara industri jika sumbangan tersebut lebih dari 30 persen.

Perroux mengatakan, pertumbuhan tidak muncul di berbagai daerah pada waktu yang sama. Pertumbuhan hanya terjadi di beberapa tempat yang disebut pusat pertumbuhan dengan intensitas yang berbeda. Inti dari perroux adalah sebagai berikut:
1. Dalam proses pembangunan akan timbul industri pemimpin yang merupakan industri penggerak utama dalam pembangunan suatu daerah. Karena keterkaitan antar industri sangat erat, maka perkembangan industri pemimpin akan mempengaruhi perkembangan industri lain yang berhubungan erat dengan industri pemimpin tersebut.
2. Pemusatan industri pada suatu daerah akan mempercepat pertumbuhan perekonomian, karena pemusatan industri akan menciptakan pola konsumsi yang berbeda antar daerah sehingga perkembangan industri di daerah tersebut akan mempengaruhi perkembangan daerah-daerah lainya.
3. Perekonomian merupakan ganbungan dari sistem industri yang relative aktif dengan industri-industri yang relative pasif yaitu industri yang tergantung dari industri pemimpin atau pusat pertumbuhan. Daerah yang relative maju atau aktif akan mempengaruhi daerah-daerah yang relative pasif.

KETERKAITAN ANTAR INDUSTRI
Pendapat-pendapat yang mendukung investasi dalam bidang industri sebagai suatu prioritas pembangunan bukan hanya didasarkan kepada hasil penelitian yang menunjukkan bahwa pertumbuhan industri menyertai pembangunan. Para penganjur industri yang pertama kali menunjukkan bahwa industri merupakan suatu sector pemimpin karena industri tersebut merangsang dan mendorong investasi-investasi di sector-sector lain juga. Pola perkembangan industri, dimana diikuti oleh barang-barang yang diproduksi untuk industri-industri, menunjukkan bahwa keterkaitan di dalam industri sendiri maupun dengan sector lainya, perlu waktu untuk dikembangkan.

Konsep pertumbuhan tidak seimbang dari Albert O. Hirschman yang dibahas dalam bab 4 menunjukkan bahwa pertumbuhan yang cepat dari satu atau beberapa industri mendorong perluasan industri-industri lainya yang terkait dengan sector industri yang tumbuh lebih dahulu tersebut. Keterkaitan-keterkaitan ini bisa keterkaitan belakang jika pertumbuhan tersebut misalnya, industri tekstil menyebabkan dalam produksi kapas atau zat-zat pewarna untuk disediakan bagi industri tekstil tersebut. Keterkaitan tersebut bisa juga keterkaitan ke depan yaitu jika adanya industri tekstil domestic tersebut mendorong tumbuhnya investasi dalam industri pakaian jadi misalnya.

INDUSTRI DAN TUJUAN PEMBANGUNAN
Setelah melihat industri dari berbagai perspektif di bagian muka, kita bisa mencapai kesepakatan akan peranan yang diharapkan dari industri terhadap pembangunan. Pertama, industrialisasi bukanlah suatu “ obat yang paling mujarab” untuk mengobati keterbelakangan. Tidak ada satupun factor produksi, atau kebijaksanaan, atau sector, atau penekanan yang bisa menyelesaikan secara sendiri-sendiri perubahan-perubahan yang rumit yang kita sebut “pembangunan”. Demikian pula halnya dengan industri. Tetapi industri ini mempunyai 2 pengaruh yang penting dalam setiap program pembangunan. Pertama, seperti dibahas dalam model dua sector lewis, produktivitas yang lebih besar dalam industri merupakan kunci untuk meningkatkan pendapatan per kapita. Kedua, industri pengolahan memberikan kemungkinan-kemungkinan yang lebih besar bagi ISI yang efesien dan meningkatkan ekspor daripada kemungkinan dari industri primer saja.
Jika industrialisasi bukan merupakan obat yang mujarab bagi keterbelakangan, demikian juga halnya pembangunan perdesaan. Masing-masing membutuhkan yang lainya, dan akan gagal jika pertumbuhan tidak seimbang serta terlalu jauh. Industri bisa menyediakan input-input produktif, terutama pupuk dan peralatan pertanian yang sederhana, bagi pertanian. Jika kebijaksanaan luar negeri dijalankan dan industri pengolahan telah efesien, input-input tersebut bisa ditawarkan dengan harga yang lebih murah dari pada harga impor. Hubungan tersebut bisa kebalikanya, karena pertanian menyediakan bahan-bahan baku untuk industri, misalnya kapas, tembakau atau karet. Pertanian dan industri juga saling menyediakan pasar bagi barang-barang produksinya masing-masing. Jika pendapatan sector pertanian tersebut tumbuh secara merata. Di mana di butuhkan land-reform dan pembangunan perdesaan yang sangat meluas, maka industri akan menikmati pasar yang lebih luas bagi barang-barang konsumsinya. Sejalan dengan itu. Pertumbuhan pendapatan di perkotaan yang didorong oleh perluasan industri, akan mendorong pertumbuhan output pertanian dan produktivitas melalui kenaikan permintaan akan pangan. Namun demikian, kunci dari permintaan akan pangan tersebut adalah tingkat pengerjaan yang meningkat dan perbaikan distribusi pendapatan di perkotaan.

INDUSTRI SUBTITUSI (ISI)
Salah satu strategi industrialisasi yang dilaksanakan Indonesia, sejak zaman pemerintahan ORBA adalah industri subtitusi impor (ISI). ISI ini diharapkan bisa menghasilkan barang-barang baru si dalam negeri yang semula di impor. Setelah subtitusi impor berhasil, baru kemudian sebagian hasil produknya diekspor. Jadi subtitusi impor ini memegang peranan penting dalam mengenalkan barang-barang baru yang dulunya dimpor dan kemudian dihasilkan sendiri.
Alasan untuk mengadakan ISI ini sebenarnya berbeda-beda antara suatu Negara dengan Negara lain. Namun demikian, berikut ini dijelaskan beberapa alasan penting:
• ISI ini di maksudkan untuk mengurangi atau menghemat penggunaan devisa. Seperti diketahui, hamper semua NSB seringkali mengalami kekurangan devisa. Oleh karena itu, devisa yang sedikit dimiliki harus digunakan secara efektif dan efesien.
• Dengan adanya ISI ini biasanya pemerintah melakukan proteksi terhadapnya dengan cara pembatasan barang-barang impor. Pembatasan barang-barang impor tersebut tentu saja akan mengurangi jumlah barang-barang impor, sementara itu permintaan di dalam negeri masih tetap besar, sehingga pada akhirnya para pengusaha dalam negeri terdorong untuk meningkatkan produksi barang-barang yang terkena pembatasan impor tersebut. Dengan kata lain, ISI ini bisa merangsang kegiatan ekonomi para pengusaha di dalam negeri.
• ISI ini bisa dimaksudkan untuk segera dapat memenuhi kebutuhan sendiri akan berbagai barang industri dan juga karena semangat kemerdekaan yang timbul di NSB, yang kemudian diikuti pula oleh keinginan untuk mencapai kemerdekaan dalam bidang ekonomi.
• Alasan lain bagi adanya ISI ini adalah untuk mengembangkan kegiatan ekonomi di dalam negeri. Walaupun suatu Negara tidak mengalami kesulitan devisa, misalnya, tetapi untuk memajukan perekonomian dan mendorong timbulnya industri-industri utama di dalam negeri, Negara tersebut melakukan proteksi dan memberikan berbagai macam fasilitas kepada para pengusaha. Dengan demikian keuntungan yang diperoleh para pengusaha bisa meningkat dan dapat mendorong kegiatan ekonomi lebih lanjut.

Dalam pelaksanaanya kebijaksanaan ISI ini ada berbagai masalah yang dihadapi oleh NSB yang melaksanakannya. Pertama, kualitas barang yang dihasilkan. Kualitas barang yang dihasilkan di dalam negeri sebagai barang subtitusi impor sering jauh lebih rendah daripada hasil produksi luar negeri.Kualitas yang rendah ini akan sulit untuk diekspor.Dengan demikian,ISI ini bukannya menghemat penggunaan devisa tetapi juga menurunkan penerimaan ekspor.
Kedua, biaya produksi.pada tahap awal industrialisasi bisanya dibutuhkan biaya yang sangat besar digunakan untuk tenaga kerja,membeli mesin mesin, dan membeli bahan bahan baku yang diperlukan.jadi modal yang diperlukan sangat banyak.Oleh karena Negara itu Negara mempuyai modal yang sedikit,maka dalam tahap awal indutrialisasinya terpaksa mendatangkan modal dan tenaga kerja dari luar negeri.
Industri Promosi Ekspor (IPE)
Menurut Anne Krueger (1978), Wakil Presiden Dunia,ada 4 faktor yang menerangkan mengapa setrategi industalisasi promosi ekspor dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih pesat ketimbang setrategi sutitusi ekspor.keempat factor tersebut adalah (1) kaitan sector pertanian dengan sector industri,(2) skala ekonomis (economi of scale), (3) dampak persaingan atas prestasi perusahaan, dan (4) dan kekurangan devisa atas pertumbuhan ekonomi
.
Ad (1) kaitan sector pertanian dengan sector industri
Pengalaman beberapa NSB, antara lain India,RRC dan Filiphina, telah menunjukan bahwa suatu sector pertaniaan yang pertumbuhannya lamban dapat dapat menghambat pertumbuhan ekonomi pada umumnya dan sector industri pada khususnya. Hal ini dapat terjadi karena produksi pertanian yang lamban akan meningkatkan harga pangan, sehingga tingkat upah juga cenderung naik,sehingga pada ahirnya akan dapat menghambat pertumbuhan sector indutri.

Ad (2) Skala ekonomis
Bagi industri industri dimana factor skala ekonomi adalah penting, maka strategi promosi ekspor akan dapat memberikan dorongan dorongan yang lebih kuat kepada perusahaan perusahaan yang baru dari pada dibawah strategi subtitusi import, karena perusahaan perusahaan inidapat menyusun rencana investasi,produksi dan pemasaran mereka atas dasar potensi pasar domestk dan psar ekspor.Dengan strategi promosi ekspor sejak semula dapat dibangun pabrik dengan skala ekonomi yang efisien, oleh karena dalam membangun pabrik pabrik tersebut para indutrialisasi sudah merencanakan untuk memasarkan sebagian dari produksi mereka di pasar dunia.
Ad (3) Persaingan
Suatu segi positif yang penting dari strategi promosi ekspor adalah bahwa persaingan dipasar ekspor mengharuskan para indrialisasi untuk menjajaki berbagai cara untuk menekan biaya produksi mereka sampai ketingkat yang serendah rendahnya,sehingga hasil produksi mereka dapat bersaing dalam harga dipasar ekspor.
Ad (4) Kekurangan devisa
jika kekurangan devisa dapat menghambat pertumbuhan ekonomi yang pesat.pada tingkat makro ekonomi,skala investasi nasional perlu dikurangi,jika diperkirakan bahwa ditahun mendatang akan dihadapi masalah kekurangan devisa.
Pola Penhgembangan Industri
Pengelompakan pola piker industrialasasi scara keseluruhan telah tercakut dalam pola pengembangan indutri Nasional (PPIN) yang dibuat oleh departemen Perindustrian.PPIN tersebut berintikan 6 butir kebijakan:
1. Pengembangan industri yang diarahkan untuk pendalaman dan pemantapan struktur industri serta dikaitkan dengan sector lainnya.
2. pengembangan indutri permesinan dan elektronika penghasil brg modal.
3. Pengembangan industri kecil
4. pembangunan ekspor komuditi industri.
5. pembangunan kemampuan penelitian, pengembangan dan rancang bangun khususnya perangkat lunak dan perekayasaan.
6. Pembangunan kemampuan para wiraswasta dan tenaga kerja indutri berupa manajemen,keahlian,kejujuran serta keterampilan.




Kamis, 09 Juli 2009

PENGARUH INTENSITAS BERMAIN GAME TERHADAP PRODUKTIVITAS BELAJAR ANAK


A. Pendahuluan
Keterkaitan penulis untuk memahami lebih lanjut mengenai studi tentang pengaruh bermain game terhadap produktivitas belajar anak. Di antara ciri-ciri dari zaman modern adalah adanya percepatan luar biasa dari dunia ilmu pengetahuan dan teknologi. Tiap hari, ada saja kita dengar lahirnya penemuan dan inovasi baru di bidang ini. Salah satu penemuan dan inovasi paling menonjol saat ini terkait dengan perkembangan jenis-jenis game. Khalayak dunia, khususnya anak-anak, selalu tersihir dengan munculnya aneka permainan baru yang dilempar ke pasaran. Visualisasi pada objek-objek game saat ini memang sudah semakin mendekati objek aslinya. Para orang tua pun biasanya cenderung membiarkan anak-anak mereka bermain dengan game-game tersebut. Alasannya cukup banyak. Harga-harga game tersebut di pasaran umumnya murah dan terjangkau. Kemudian, game-game tersebut secara umum dianggap mampu melatih penalaran bagi anak-anak. Alasan lain yang tidak kalah penting, game dianggap tidak berbahaya bagi anak-anak. Berbeda dengan permainan-permainan nyata yang berpotensi mengancam fisik. Hanya saja, sebagaimana hasil-hasil karya manusia lainnya, game-game komputer juga tidak lepas dari nilai-nilai negatif yang tersembunyi, terutama jika di sana terjadi penyalahgunaan.http://indonesian.irib.ir/perspektif/2006/06juni/game.htm

B. Latar Belakang Masalah
Perangkat electronic games, seperti computer games, handheld atau portable game dan play station diciptakan untuk menjadi teman bermain anak (dan juga orang dewasa) yang menyenangkan. Efek grafis, animasi, dan suara mereka semakin hari semakin luar biasa, dan makin mendekati realitas.Umumnya game pun sudah semakin interaktif, sehingga para pemain bisa saling berlaga. Lebih lagi, permainan ini, umumnya selalu memompa rasa penasaran dan kompetitif yang semuanya menggenjot adrenalin sang pemain.
Pentingnya masalah ini harus di teliti karena menimbulkan beberapa efek negative terhadap keseharian anak, misalnya seorang anak yang mempunyai kebiasaan bermain game dapat membuat seorang anak terasing dari lingkungannya. Bermain game umumnya dilakukan sendirian, dan itu dilakukan dalam waktu yang cukup lama. Semakin kecanduan seorang anak terhadap game, semakin sedikit pula waktu yang tersedia untuk berkomunikasi dengan teman-teman seusianya.
Dari sisi ini, jelas sekali terbayang dampak negatif yang ditimbulkan oleh game tersebut. Si anak akan kehilangan kemampuan untuk bersosialisasi dengan masyarakat. Dampak buruk game juga terlihat jelas pada prestasi belajar anak-anak. Seperti dikutip Strait Times, Rabu (29/8/2001), Ryuta menegaskan bahwa jika anak-anak dijejali aneka permainan komputer, maka lama-kelamaan akan terjadi kerusakan di sebagian otaknya. Asumsi awal yang menyatakan bahwa permainan game aman bagi kesehatan anak-anak juga ternyata tidak benar. Pandangan mata yang terpusat selama berjam-jam kepada layar jelas merusak kesehatan mata. Selama beberapa tahun terakhir ini diketahui bahwa para pasien penyakit mata ternyata adalah anak-anak yang kecanduan dengan game. Bagian badan lainnya, seperti tangan, kaki, tulang punggung, dan pinggang, juga tidak luput dari ancaman kesehatan akibat terlalu lamanya anak-anak bermain game. Sama seperti mata, anggota badan lainnya juga cenderung malas bergerak saat bermain game. Padahal, pertumbuhan dan kesehatan organ-organ tubuh anak-anak sangat bergantung kepada kuantitas dan kualitas gerakannya. Permainan game tersebut jelas telah merengut kesempatan baginya untuk membaca dan menelaah pelajaran-pelajaran sekolah. Padahal, ada sangat banyak jenis permainan yang disukai oleh anak-anak.
Game juga diketahui telah mengekang kreativitas anak-anak. Padahal, pengembangan kreativitas adalah salah satu hal sangat penting dalam pertumbuhan anak-anak. Sebagaimana industri radio, sinema, dan televisi, industri game juga berpusat di Barat. Oleh karena itu, industri game juga memiliki sejumlah efek buruk khas Barat, yaitu meluasnya kekerasan, anarkisme, liberalisme tanpa batas, runtuhnya nilai-nilai keluarga, imoralitas, dll. Akan tetapi, semua itu tidak pernah dipedulikan oleh kalangan industrialis game, karena tujuan mereka juga hanya sekedar menarik keuntungan materi sebesar-besarnya dari industri game tersebut. Penelitian tentang efek video game pada otakpun menjadi demikian populer seiring dengan persentase pemain dari anak-anak maupun orang dewasa yang terus meningkat. Game yang tersedia di pasaran memang bervariasi mulai dari catur yang membutuhkan logika, balap mobil, petualangan, hingga pertempuran senjata dan strategi perang. Selain memberikan efek positif seperti merangsang kerja otak dan refleknya hingga menjadi lebih cerdik, serta meningkatkan koordinasi antara mata dan jari, efek negatif di luar manfaat yang diberikan juga terjadi. Beberapa orang percaya bahwa aksi kekerasan di video game atau media lain bisa mendorong perilaku yang tidak baik juga bagi pemainnya.

C. Rumusan Masalah
Banyak yang mengatakan bermain game membuat pruduktivitas belajar anak menurun, tapi ada juga yang mengatakan dengan bermain game dapat menambah kualitas kreatifitas anak. Dari kedua persepsi yang kontradiktif inilah, manakah persepsi yang benar dari uraian di atas tentang fenomena ini.
Karena informasi yang penulis peroleh dari berbagai media massa maupun media elektronik sangat sedikit, terutama tentang penyebab timbulnya fenomena ini yang juga masih simpang siur. Maka penulis akan mencoba mengungkap pokok permasalahan tentang hal tersebut lebih dalam. Dengan harapan bisa menjadi informasi penting terhadap semua pihak yang memperhatikan fenomena “bermain game” ini.
Jadi, penulisan proposal ini bertujuan mencari sebab serta efek dari timbulnya fenomena ini serta mengkomparasikan antara beberapa persepsi yang kontradiktif diatas

D. Hipotesa
Dari analisa di atas, penulis mendapatkan hipotesis bahwa pengaruh intensitas bermain game terhadap produktivitas belajar anak adalah:
Bermain game bisa membuat produktivitas anak turun, akan tetapi bila kita sang orang tua bisa mengatur waktu bermain game dan belajar sang anak, sang anak akan bisa mendapatkan hasil dari keduanya tersebut.

E. Kerangka Teori
Teori adalah sekumpulan konsep-konsep yang saling berhubungan menurut aturan logika menjadi suatu bentuk pernyataa tertentu sehingga bisa bisa menjelaskan fenomena tersebut secara ilmiah.Di kutip dari: Glenn E. Snellbecker, dalam lexy J. Moeloeng, metodologi penelitian kuantitatif, PT Remaja Karya, Bandung,1991, hal 61. Teori sebagai suatu perangkat yang terintegrasi mengikuti aturan-aturan tertentu yang dapat di hubungkabsecara logis antara yang satu dengan yang lainya dengan data dasar sehingga dapat di amati dan dan dapat berfungsi sebagai wahana untuk menjelaskan fenomena yang diamati.Mochtar Mas’oed, Studi Hubungan Internasional Tingkat Analisis dan Teorisasi, PAU_UGM, 1989,hal. 156. Dalam rangka membentuk untuk merumuskan hipotesa. Teori mengembangkan serangkaian konsep menjadi suatu penjelasan yang berhubungan atau berkolerasi. Namun teori bukan merupakan pengetahuan yang pasti, teori hanya dipakai sebagai petunjuk bagi penelitian. Kuntjoro Ningrat, Methodologi Penelitian Masyarakat, Jakarta, 1983, hlm.3.
Berkaitan dengan menganalisa permasalahan yang akan di kemukakan penulis, maka penulis menggunakan konsep strategi.
Dalam mencapai suatu tujuan, pada bidang apa pun selalu ada hal yang menjadi tolak ukur berhasil tidaknya suatu tindakan. Hal ini berkaitan dengan perencanaan sebelum dilakukan aksi. Sama halnya ketika kita hendak melakukan sesuatu agar tujuan menjadi lebih mudah tercapai, kita perlu memikirkan langkah-langkah yang akan kita ambil demi mengurangi resiko kegagalan seminimal mungkin. Inilah yang kemudian biasa kita sebut dengan istilah strategi. Strategi ataupun taktik dikenal pertama kali ketika orang mulai dapat berpikir apakah yang perlu dilakukan ketika akan melakukan perang sehingga kemenangan akan jatuh padanya.
Konsep strategi di gunakan oleh penulis karena dalam pembahasan dalam fenomena ini harus banyak menggunakan strategi. Sesuai seperti yang penulis kepada alasan pemilihan judul fenomena tentang pengaruh intensitas bermain game terhadap produktivitas belajat anak akan ditinjau dari bagaimana strategi orang tua dalam mendidik anak maka di kemukakan kembali dua pandangan pokok mengenai fenomena diatas tersebut.

F. Definisi Konseptual
Dari apa yang dibahas kerangka teori diatas maka dapat di simpulkan bahwa dalam meninjau fenomena diatas masalah tentang pengaruh intensitas bermain game terhadap produktivitas belajar anak, antara satu konsep dengan konsep yang lainya saling terkait dan dapat memudahkan penulis dalam mempelajari fenomena tersebut